Letak daerah Tana Toraja terbentang mulai dari KM 280 sampai dengan 355 dari ibu kota propinsi sulawesi selatan.Luas wilayah Tana Toraja adalah 3.205,77 KM atau sekitar 5% dari luas propinsi Sulawesi Selatan terletak antara 119-120 derajat BT dan 02-03 derajat LS.Kondisi top daerah ini terdiri atas pegunungan kurang lebih 40% dataran tinggi kurang lebih 20% dataran rendah kurang lebih 38%, rawa-rawa dan sungai kurang lebih 2%. Tana Toraja berada di atas ketinggian antara 600m-2800m dari permukaan laut.
“Rambu Solo” adalah sebuah upacara pemakaman secara adat
yang mewajibkan keluarga yang almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda
penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi.
- Dipasang
Bongi: Upacara pemakaman yang hanya dilaksanakan dalam satu malam saja.
- Dipatallung
Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama tiga malam dan
dilaksanakan dirumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.
- Dipalimang
Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama lima malam dan
dilaksanakan disekitar rumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.
- Dipapitung
Bongi:Upacara pemakaman yang berlangsung selama tujuh malam yang pada
setiap harinya dilakukan pemotongan hewan.
- Ma'pasilaga
tedong (Adu kerbau), kerbau yang diadu adalah kerbau khas Tana Toraja yang
memiliki ciri khas yaitu memiliki tanduk bengkok kebawah ataupun
[balukku', sokko] yang berkulit belang (tedang bonga), tedong bonga di
Toraja sangat bernilai tinggi harganya sampai ratusan juta; Sisemba' (Adu
kaki)
- Tari
tarian yang berkaitan dengan ritus rambu solo' seperti : Pa'Badong,
Pa'Dondi, Pa'Randing, Pa'Katia, Pa'papanggan, Passailo dan Pa'pasilaga
Tedong; Selanjutnya untuk seni musiknya: Pa'pompang, Pa'dali-dali dan
Unnosong.
- Ma'tinggoro
tedong (Pemotongan kerbau dengan ciri khas masyarkat Toraja, yaitu dengan
menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas), biasanya
kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama
Simbuang Batu.
“Rambu Tuka” adalah acara
yang berhungan dengan acara syukuran misalnya acara pernikahan, syukuran panen
dan peresmian rumah adat/tongkonan yang baru, atau yang selesai direnovasi;
menghadirkan semua rumpun keluarga, dari acara ini membuat ikatan kekeluargaan
di Tana Toraja sangat kuat semua Upacara tersebut dikenal dengan nama Ma'Bua',
Meroek, atau Mangrara Banua Sura'.
Pemakaman
- Londa,
yang merupakan suatu pemakaman purbakala yang berada dalam sebuah gua,
dapat dijumpai puluhan erong yang berderet dalam bebatuan yang telah
dilubangi, tengkorak berserak di sisi batu menandakan petinya telah rusak
akibat di makan usia.
- Lemo
adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, yang merupakan kuburan alam yang
dipahat pada abad XVI atau setempat disebut dengan Liang Paa'. Jumlah
liang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40
buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan para
bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini
ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik.
- Tampang
Allo yang merupakan sebuah kuburan goa alam yang terletak di Kelurahan
Sangalla' dan berisikan puluhan Erong, puluhan Tau-tau dan ratusan
tengkorak serta tulang belulang manusia. Pada sekitar abad XVI oleh
penguasa Sangalla' dalam hal ini Sang Puang Manturino bersama istrinya
Rangga Bualaan memilih goa Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak
jika mereka meninggal dunia, sebagai perwujudan dari janji dan sumpah
suami istri yakni "sehidup semati satu kubur kita berdua". Goa
Tampang Alllo berjarak 19 km dari Rantepao dan 12 km dari Makale.
- Liang
Tondon lokasi tempat pemakaman para Ningrat atau para bangsawan di wilayah
Balusu disemayamkan yang terdiri dari 12 liang.
- To'Doyan
adalah pohon besar yang digunakan sebagai makam bayi (anak yang belum
tumbuh giginya). Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang
secara teratur tumbuh membentuk rongga-rongga. Rongga inilah yang
digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi.
- Patane
Pong Massangka (kuburan dari kayu berbentuk rumah Toraja) yang dibangun
pada tahun 1930 untuk seorang janda bernama Palindatu yang meninggal dunia
pada tahun 1920 dan diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut
Rapasan Sapu Randanan. Pong Massangka diberi gelar Ne'Babu' disemayamkan
dalam Patane ini. tau-taunya yang terbuat dari batu yang dipahat .
Jaraknya 9 km dari Rantepao arah utara.
- Ta'pan
Langkan yang berarti istana burung elang. Dalam abad XVII Ta'pan Langkan
digunakan sebagai makam oleh 5 rumpun suku Toraja antara lain Pasang dan
Belolangi'. Makam purbakala ini terletak di desa Rinding Batu dan memiliki
sekian banyak tau-tau sebagai lambang prestise dan kejayaan masa lalu para
bangsawan Toraja di Desa Rinding Batut. Dalam adat masyarakat Toraja,
setiap rumpun mempunyai dua jenis tongkonan tang merambu untuk manusia
yang telah meninggal. Ta'pan Langkan termasuk kategori tongkonan tang
merambu yang jaraknya 1,5 km dari poros jalan Makale-Rantepao dan juga
dilengkapi dengan panorama alam yang mempesona.
- Sipore'
yang artinya "bertemu" adalah salah satu tempat pekuburan yang
merupakan situs purbakala, dimana masyarakat membuat liang kubur dengan
cara digantung pada tebing atau batu cadas. Lokasinya 2 km dari poros jalan
Makale-Rantepao.
Tempat upacara pemakaman
adat
b. “Tau-tau”
PENUTUP